Jalan indah menuju kedamaian


Sebagai seorang khalifah, pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib mengadakan kunjungan ke masjid kota Bashrah. Ia melihat banyak orang di masjid itu sedang berbincang-bincang tanpa tujuan. Segera diusirnya keluar, sebab pembicaraan mereka tidak ada gunanya, menghabiskan waktu dengan sia-sia.
Tetapi ia menyempatkan diri untuk berdiri sejenak mendengarkan seorang anak muda yang tengah bercerita dihadapan sejumlah jamaah. Anak muda itu dikenal bernama Hasan.
Kepada anak muda tersebut, Ali berkata, “Aku takkan melarangmu memberikan tuntunan dan pendapat-pendapatmu kepada kaum muslimin jika engkau dapat menjawab dua pertanyaanku saja.
Anak muda itu mengangguk, “silakan wahai amirul mukminin.
Ali bin Abi Thalib lantas bertanya: “katakanlah, apa yang bisa menyelamatkan agama dan hokum, serta apa pula yang bisa merusakkannya?
Melihat pemuda itu merenung beberapa saat, Ali mengancam, “bila engkau tidak bisa menjawab secara tepat, akan kuusir kamu dari dalam masjid sebagaimana telah kulakukan atas yang lain.
Anak muda itu tersenyum tulus ketika menyahut:” yang dapat menyelamatkan agama dan hukum adalah sifat wara’ dan yang membinasakannya adalah tha’ma.

Dengan suka cita Ali menyambut, “engkau benar. Pemuda semacam engkau mempunyai hak untuk menuntun manusia ke jalan kedamaian.
Penghargaan ini tidak keliru. Sebab pemuda itu adalah Hasan Al-Bashri, tokoh sufi yang dikemudian hari terkenal juga sebagai Wali.

Kebesaran Hasan Al-Bashri dan kepiawaiannya timbul lantaran ia memegangi sifat wara’ dan menjauhkan diri dari Thama! Jadi apakah wara’ dan thama’ itu?

Banyak diantara para kyai yang hidup diabad mutakhir ini masih tetap tinggal didalam rumah papan. Kecil dan acapkali berlantaikan tanah telanjang. Padahal para kyai tersebut memiliki pesantren dan gedung-gedung pendidikan yang megah dan mewah. Mengapa?
Penganut tasawuf yang lebih dikenal dengan sebutan kaum sufi, menampak kehancuran dan kerusuhan yang menindih umat manusia timbul dari dua macam keadaan dan kerawanan. Pertama akibat manusia tidak percaya kepada Allah. Dalam pengertian, keimanan manusia kepada yang ghaib baru sampai formalitas tanpa hujaman kedalam jiwa. Dan sebab yang kedua adalah lantaran manusia terlalu mencintai diri sendiri, termasuk dalam perbuatan konon kebajikan ataupun kedermawanan. Memberi bukan karena mencintai sesama, melainkan sekedar mencari kepuasan pribadi.

Inilah yang mengakibatkan manusia terlibat dalam berbagai kekacauan hidup. Tidak takut melanggar pantangan. Tidak acuh kepada perintah, nafsu mengejar harta dan kedudukan menjadi ajang pertarungan yang tidak mengenal norma-norma serta perikemanusiaan.

Untuk mengatasi ketidak tenteraman separah itu, penyelesaian tidak mungkin dicari hanya pada kerja dan upaya-upaya dzahir, tetapi harus ditelusuri kepada akarnya, yaitu Syahwat atau hawa nafsu.
Bila manusia dapat mengendalikan syahwatnya pada batas yang diridhai Allah, akan terciptalah keseimbangan jiwa yang bakal melahirkan sifat, watak dan perilaku terpuji. Dan disitulah bermula segala amal shalih yang tulus tanpa riya.

Jika syahwat bersipongang lebih dominan dan mencuat disegala kegiatan hidup, maka terbukalah jurang curam yang akan memenjarakan manusia kedalam kemelut berkepanjangan.
Hal ini pernah ditegaskan oleh sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dalam salah satu ucapannya,
Beruntunglah manusia yang menjadikan akalnya sebagai panglima sedang hawa nafsunya sebagai pesakitan. Sebaliknya, celakalah manusia yang hawa nafsunya dijadikan panglima dan akalnya sebagai pesakitan.

Menurut para sufi, kehidupan manusia digerakkan oleh tiga kekuatan, yakni Syahwat, Aqal dan Ghadlab atau Hawa Nafsu, Akal serta Vitalitas.
Karena tiga kekuatan itulah yang juga menimbulkan kerunyaman-kerunyaman, para sufi berusaha meyakinkan manusia untuk perlunya menindas atau setidaknya mengekang ketiga macam kekuatan tersebut sampai seminimal mungkin.

Lalu, karena dorongan kepada keburukan biasanya lebih dahsyat, maka yang mula-mula dilakukan oleh para sufi untuk mencapai tujuannya ialah berusaha tidak mengerjakan keburukan dan bukannya mengutamakan melakukan kebaikan-kebaikan.

Itulah yang menggiring mereka untuk menempuh kehidupan wara’ seolah meninggalkan sama sekali kesenangan duniawi. Hanya melalui wara’ akan tercapai kenikmatan ibadah yang ikhlas dalam perbuatan yang damai serta sejuk.

Sebab memperturutkan kehura-huraan duniawi bakal mengubah sifat manusia menjadi thama’, serakah menuntut yang lebih banyak dan mementingkan diri sendiri. Timbullah dari sini kekejaman, permusuhan dan kecurangan.
Karenanya, upaya terpokok yang mesti dilaksanakan manusia ialah Takhalli, mengosongkan jiwa dari semua niat atau bisikan kejahatan. Lalu mengisinya kembali sesudah bersih dengan tekad dan ajakan-ajakan kebaikan yang dinamakan Tahalli.

(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.