Disalin dari:
Koran Republika, Sabtu 3 Juli 2010
Hikmah oleh M Baharun

Bohong atau dusta adalah perbuatan nista. Tapi mengapa orang masih banyak melakukannya? Dimana-mana, kita menyaksikan orang berdusta: di pasar, kantor, kampus, bahkan di tempat ibadah pun ada berani berdusta untuk menutupi perbuatan tercela. Kebohongan seakan menjadi perisai pembelaan diri. Terkadang, seorang tokoh panutan, juga tak luput melakukan kebohongan.
Di perusahaan, pemerintahan, dewan dan di pengadilan, masih ada yang bangga dengan kebohongan. Padahal, tali kebohongan itu pendek. Dalam sebuah kata bijak, “Semua tali itu panjang, kecuali tali kebohongan.”
Jika kita sudah menyadarinya, mengapa kita masih suka berdusta? ALLAH telah mengancam pendusta atau pembohong itu dengan kutukan. “La’natuLLAH ‘alal kadzibin” (laknat ALLAH atas para pendusta).
Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapatkan dua kali kerugian :
Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan tercela ini.
Kedua, jika kebohongannya diketahui orang lain, mereka akan kehilangan kepercayaan. Bahkan,kepadanya akan disematkan predikat pendusta atau pembohong. Akibatnya, hubungan dirinya dengan sesama manusia (hablum minannas) akan terhambat.Orang akan menjauhi dan tidak bersimpati lagi kepadanya.
Ketika didatangi seseorang yang memohon nasehat kepada RasuluLLAH SAW, beliau hanya berkata singkat: “Jangan berdusta”. Kalimat singkat, namun bersahaja, dan memiliki implikasi manfaat yang sangat besar.
Orang yang berkata-kata jujur (benar) dan tidak suka berbohong, secara psikologis tidak punya beban berat dalam hidupnya. Karenanya, hatinya senantiasa merasa tenteram dan damai.
Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang dan dunia terasa sempit. Ia akan senantiasa merasa dihantui oleh perasaannya sendiri, lantaran khawatir kebohongan diketahui orang lain.
Dalam al Qur’an, terdapat 30 ayat yang menyangkut kebohongan ini. “Sesungguhnya orang yang berbohong itu, mereka yang tidak beriman dengan ayat-ayat ALLAH.” (QS 16:105). “Pendusta tidak beruntung.” (QS 16:116). “Yang menyiarkan berita bohong akan mendapat azab yang besar.” (QS 24:11).
WaLLAHu a’lam.
Filed under: Uncategorized


