Dalam keadaan lapar dan haus ditengah pengembaraannya, Ibrahim Al-Khawashy menjumpai sebatang pohon delima yang tumbuh terpencil sendirian dipuncak bukit gersang. Kebetulan salah satu buahnya ada yang sudah ranum kekuningan sehingga menerbitkan air liurnya.
Dengan harapan akan terpuaskan dahaganya jika melahap buah delima yang kelihatannya menyegarkan itu, tanpa berpikir lagi Ibrahim Al-Khawashy segera memetiknya.
Namun apa yang terjadi? ternyata jauh sekali rentangan jarak antara hayalan dan yang dialaminya. Buah itu nyinyir dan kepahit-pahitan. karena itu Ibrahim Al-Khawashy memuntahkan kembali biji-biji delima yang belum sempat ditelannya.
Disuatu taman yang rimbun dalam perjalanan seterusnya, Ibrahim Al-Khawashy mendengar suara seseorang yang sedang mengerang kesakitan. Ibrahim cepat-cepat mendekat hendak menolongnya.
Tampak seorang kakek tua terbaring ditanah dengan sekujur tubuh yang lebam-lebam disengat lebah. Akan tetapi orang tua itu cepat bangkit ketika Ibrahim akan membantunya, dan Langsung berkata,
“Selamat datang wahai Ibrahim Al-Khawashy.”
Ibrahim terperanjat. ia belum pernah berjumpa muka dengan kakek itu. Namun Kakek tersebut bisa menyebut namanya. Maka dengan heran ia berkata, “Wahai kakek. dari mana tuan mengenal nama saya?”
Kakek itu tersenyum dan menjawab,
“Aku ini orang yang dekat dengan Allah. Bagi orang semacamku tak ada rahasia yang tersembunyi. doaku juga selalu dikabul.”
Ibrahim tersinggung mendengar kesombongan kakek tersebut. ia menukas sebal,
“Jika tuan benar-benar dekat dengan Allah dan doa tuan selalu dikabul, mengapa tuan tidak berdoa tadi supaya lebah-lebah jangan menyengat tuan?”
kakek itu tersenyum :”Ibrahim Al-Khawashy. sebetulnya yang kau katakan itu adalah perasaanmu. Aku tahu engkau merasa sudah dekat dengan Allah, dan yakin doamu pasti dikabulkan. Jadi mengapa engkau tidak mau berdoa tadi supaya tanganmu tidak memetik buah delima yang bukan milikmu? penyakitku ini adalah sekadar penderitaan lahir yang akan sembuh dalam dua atau tiga hari. akan tetapi penyakitmu yang mengeram dihati sehingga engkau masih bisa dikuasai hawa nafsu adalah penyakit rohani, yang akan menyiksamu selama-lamanya bila engkau tidak bertaubat.”
Ibrahim Al-Khawashy tersentak dan mengucurkan air mata, menyadari keangkuhan dalam kelemahannya.
Itulah yang diajarkan oleh kaum Shufi. memerangi hawa nafsu dengan mengenali diri sendiri. sebab dengan mengenali diri sendiri, seseorang akan mengetahui kefanaannya. dengan mengetahui kefanaannya, ia akan lebih yakin tentang maha agungnya kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Mengenai hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Barangsiapa mengetahui dirinya pasti akan mengenali tuhannya.”
Untuk itulah para Shufi kemudian banyak yang melakukan kehidupan sengsara dengan memperbanyak lapar dan menderita.
Junaid Al-Baghdadi menerangkan tentang tujuan Shufi melalui penalaran yang “Mengerikan” menurut ukuran orang awam. Ia menyatakan,
“Hikmah Tasawuf tidak kami timba dari pikiran dan pendapat orang. Hikmah Tashawwuf kami peroleh dari menahan lapar dan kesengsaraan, dengan meninggalkan kecintaan kami kepada dunia dan kebiasaan hidup sehari-hari untuk lebih sempurna melaksanakan semua perintah tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.”
Dengan memilih jalan hidup seperti itu tidak berarti bahwa seorang shufi menempuh kehidupan sengsara. ia bahkan mendapatkan kebahagiaan hakiki. sebab arti kebeningan hati shufi ialah meresapi keberadaan Tuhan, menghayati wujud tuhan dalam semua gerak, tingkah laku dan perbuatan. menyadari kehadiran tuhan dalam cita, rasa dan karsa, sehingga diri kita tidak pernah terlepas dari keinsyafan bahwa tuhan senantiasa menyaksikan dan menyertai kita dimana pun juga, bagaimanapun juga.
Bahwa manusia selalu berada dalam kungkungan takdir yang telah ditetapkan oleh sang Azali, selaras dengan ucapan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar :
“Segala sesuatu berlangsung atas kemauan takdir, termasuk kelemahan dan kecerdasan.”
Lahirlah dari keyakinan ini sikap zuhud, mengasingkan diri dari kebutuhan duniawiyah, membebaskan diri dari kenikmatan syahwati yang pada hakekatnya merupakan azab atau siksaan. sebab ternyata apabila diperturutkan semua hajat insaniyah, yang ditemukan hanyalah belenggu yang merantai manusia dalam rangsangan yang tak pernah mengenal kepuasan.
Sifat Qana’ah, yakni sikap mental yang mempunyai ciri pasrah terhadap apa saja yang diterima dari Allah, mensyukuri segenap keputusan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, adalah perhiasan indah yang mewarnai perilaku para Shufi.
Mereka menabukan segala yang berlebihan, Ikhtiar berlebihan, kerja berlebihan, cita-cita atau keinginan berlebihan. Kecuali Ibadah yang mereka lebihkan. mencintai Allah yang mereka utamakan.
Ibnu ‘Athoillah As-Sukandary mengatakan, “Cita-cita yang dipaksakan tidak akan merobek ketentuan takdir.”
Para Shufi, yang diyakini pula oleh akidah Ahlusunnah wal jama’ah berpendapat bahwa tidak satupun dari semua yang ada dan terjadi di alam semesta ini, juga cita-cita dan kemauan yang keras manusia, mempunyai kekuatan untuk mewujudkan sesuatu, meskipun didukung dengan kemampuan dan puncak kesanggupannya, kecuali bila Takdir menghendaki.
Betapa pun manusia menyangka bahwa perbuatannya adalah hasil dari Iradah atau kemauannya sendiri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semua itu sebenarnya merupakan iradah atau kemauan Allah semata-mata.
Mereka mendasarkan pendapat yang teguh ini atas firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 17 :
“Dan tidaklah engkau melontar pada waktu melontar, melainkan Allah yang melontar.”
dilihat dari Asbabun Nuzul, sebab-sebab turunnya ayat, firman Allah tersebut sebetulnya berkenaan dengan kemenangan ummat Islam dalam peperangan. bahwa kemenangan itu adalah karena bantuan Allah.
Namun para Ahli Tasawwuf mentakwilkannya menjadi pokok dasar kepercayaan mereka bahwa Allah sajalah yang sebenarnya berbuat dan mengatur. cuma perbuatan dan pengaturan Allah itu dijelmakan kepada diri manusia. dan celakanya, manusia menyangka bahwa semua itu merupakan perbuatan atau jerih payah mereka belaka. sejalan dengan itu, para shufi menegaskan:
“Apa yang dikehendaki Allah pasti terwujud. dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak mungkin terwujud.”
barangkali dalam satu segi, keyakinan ini menumbuhkan ketenteraman rohani. Namun yang jelas, apabila salah dalam meresapkannya, justru akan membibitkan kejumudan serta kepasrahan tanpa ikhtiar. karenanya, para Shufi tidak menyebar luaskan untuk menjadi pegangan masyarakat awam.
(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi



