Sesungguhnya yang bersikeras membeli Yusuf dipasar budak adalah Futifar, suami Zulaikha. dan ketika Zulaikha meminta suaminya untuk mengangkat Yusuf menjadi anak asuh, dorongan yang timbul dihatinya adalah rasa iba semata-mata. sikap hati yang tulus dan tidak terbungkus, itulah yang melatar belakangi niat Zulaikha, sang istri. tidak ada pamrih sama sekali.
Kemudian Yusuf tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan, dan Zulaikha jatuh cinta. bukan cinta seperti yang dirasakan sebelumnya, yang tanpa kerinduan dan rangsangan-rangsangan syahwat. Zulaikha tidak tahu mengapa tiba-tiba saja cinta semacam itu bercokol dihatinya, sekarang. Cinta yang disarati hayalan keindahan dan bayangan kegelisahan. Cinta yang dilengkapi harapan kebahagiaan dan ketakutan-ketakutan.
Peralihan bentuk cinta itu membuat Zulaikha acapkali hampir kehilangan kendali diri. Puncaknya terjadi tatkala ia menutup pintu didalam kamar dan memaksa Yusuf untuk berdua-dua dan bermesraan dengannya. (Yusuf:23)
Apakah Yusuf tidak terusik oleh kegairahan cinta Zulaikha yang berkembang menjadi kelopak terbuka? Apakah Yusuf sesosok patung dingin yang diciptakan sebagai boneka tuhan belaka ?
Tidak. relung-relung hati Yusuf dibentangkan rahasianya oleh Allah sendiri dalam kisah-Nya, “Sesungguhnya wanita itu menginginkan Yusuf dan Yusuf pun mendambakan dia.” (Yusuf:24)
Akan tetapi toh skandal yang memalukan itu batal total. mengapa? karna berkecamuk pertarungan diantara lasykar-lasykar hati, dan ini senantiasa akan berlangsung begitu. Pertempuran antara dua kekuatan yang didukung oleh lumatul-malaikat, komando malaikat dan lumatus-syaithan. komando syetan didalam hati.
Yusuf berhasil membebaskan diri, karena ia melihat sinyal-sinyal Tuhan (Yusuf:24) sambil mengangkat dada ia berikrar,
“Takkan kubiarkan nafsuku (menguasai diriku). sesungguhnya nafsu semacam itu selalu menyuruhku berbuat keburukan.” (Yusuf:53)
Yusuf menyadari, sebagaimana semua orang shalih menyadari, bahwa hati yang tersimpan cermat didalam dada, lebih dari sekadar gumpalan daging semata. meski secara jasmaniyah hati memang cuma berupa gumpalan daging. namun dalam fungsi kemanusiawiannya hati ialah sesuatu yang tidak terindra karena lebih bersifat Ruhaniyah dan memiliki kecenderungan Ketuhanan.
Ali bin Abi Thalib mengatakan,
” Tuhan mempunyai wadah dimuka bumi, dan wadah tuhan di muka bumi adalah hati manusia.“
Menurut Sahal At-Tusturi hati jasmani yang berurat, bersaraf, berdarah dan berdenyut itu adalah singgasana bagi hati nurani. Oleh Rasulullah SAW hubungan hati jasmani dan hati Ruhani digambarkan dengan halus, seakan tersamar dan nisbi, namun jelas.
“Ketahuilah, sebenarnya didalam diri manusia terdapat segumpal daging. Apabila gumpalan daging itu baik, baik pula sekujur badan lainnya. Jika buruk, buruk juga seluruh tubuhnya. ketahuilah. gumpalan daging itu ialah hati.”
Melalui salah satu ayat Allah, kita akan memperoleh gambaran tentang hakekat hati itu, apa perbedaannya antara hati jasmani dan hati ruhani. Oleh Tuhan tidak dijelaskan secara verbal meskipun diungkapkan dengan kalimat-kalimat. Karena kalimat-kalimat yang konon dianggap verbal itu terbukti lebih bisa diserap dengan penghayatan batiniyah.
Antara lain dalam firman-Nya,
“Apakah mereka tidak mau menjelajahi bumi? Agar hati mereka dapat berpikir dan telinga mereka bisa mendengar. Sebab pada hakekatnya yang buta bukanlah mata, tapi hati yang terdapat didalam dada.” (Al-Haj:46)
Tergambarkan dalam ayat tersebut betapa kait mengait antara hati ruhani dengan fungsi organ-organ jasmani, yang rasanya terpisah namun tidak terpisah.
Lewat merenung dari mengalami, kita pasti sepakat bahwa tangan, telinga, kaki, mata bahkan denyut jantung, semuanya tunduk kepada hati ruhani. mereka hanya bergerak dan berdebur setelah ada perintah hati. Perintah itu seringkali demikian cepatnya sampai tidak ada kesempatan sekejap pun untuk merintanginya. itulah kedahsyatan hati ruhani.
Kepatuhan manusia kepada Allah adalah melalui berpikir dan menyadari akan tetapi ketaatan anggota tubuh kepada hati adalah pengabdian naluriyah yang membabi buta. Kelopak mata berkedip tanpa meminta waktu dulu untuk bertanya. “Mengapa aku harus berkedip?” masih jauh lebih bersitegang manusia kepada Allah yang terkadang memaksa ingin tahu, mengapa babi diharamkan dan mengapa aku harus bersembahyang.
untuk melengkapi kehidupan insaniyahnya, manusia memerlukan dua macam balatentara. lasykar pertama bertugas mengundang, memanggil yakni syahwat. Lasykar kedua berfungsi menolak yaitu Al-Ghadab. inilah yang membentuk dorongan untuk berbuat. dalam istilah sehari-hari dijuluki kemauan.
Akan tetapi kemauan saja tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa kekuasaan. dan kekuasaan pada manusia agar dapat melaksanakan kemauannya tersebar pada segenap jaringan saraf, otot dan urat-urat daging.
Sedangkan kelengkapan manusia untuk memantau dan menyadap dinamakan Al-Jawaasis. umumnya terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan Indra peraba.
Maka terbentuklah jaringan rasa yang berasal dari jasmani dan dihayati oleh Ruhani. kemanunggalan antara jasmani dan ruhani itulah yang melengkapi kemanusiaan yang utuh.
Sebab Ruhani berasal dari kata Ruh, adalah tidak tepat kalau ruh diartikan hanya sebagai nyawa, yakni sesuatu yang menyangkut hidup dan matinya makhluk. Ruh dalam pengertian ini adalah yang dimaksudkan tuhan dalam Firmannya “Katakanlah bahwa ruh itu merupakan urusan tuhanmu.” (Bani Israil:85)
Jadi ruh bisa menyangkut dua makna, yaitu sejenis makhluk batiniyah yang teramat halus dan bersumber dari rongga hati jasmani. ia mempunyai perantara-perantara berupa otot, urat dan saraf-saraf yang tersebar keseluruh bagian tubuh. Perjalanannya bagaikan pancaran cahaya yang hidup lewat perasaan, penciuman, penglihatan dan pendengaran. persis seperti limpahan cahaya lampu yang menerangi segenap sudut rumah. tidak satu bagian pun sudut rumah yang terlimpahi cahaya itu tidak menjadi terang. Hidup ibarat cahaya pada dinding-dinding, sedangkan lampunya adalah Ruh. Gerak ruh dalam hidup adalah sama belaka dengan gerak lampu yang menyebarkan cahayanya. pasti ada yang menggerakkan dan dialah Allah.
Adapun Ruh dalam makna yang kedua ialah sifat halus dan peka yang mampu melacak serta mengetahui segala sesuatu dan bisa menangkap atau memahami semua pengertian.
Demikianlah ketika Ruh mentransformasi diri menjadi Ruhani, maka ia mulai berhubungan dengan piranti kehidupan lainnya. diantaranya Nafsu.
Nafsu atau An-Nafs mengandung dua macam makna terpokok. pada pihak negatif, nafsu ialah pusat tertimbunnya sifat-sifat tercela manusia yang menjadi lahan paling subur bagi pemukiman syetan. Nafsu semcam ini mengaliri sekujur tubuh seperti darah mengalir hingga ke saraf-saraf yang paling halus. sebagaimana diungkapkan oleh Nabi SAW :
“Sesungguhnya syetan mengalir dalam diri manusia mengikuti urat-urat darahnya, dan mendirikan markasnya dalam dada manusia.”
Nafsu dalam penampilan kriminal inilah yang wajib diperangi. seperti diutarakan oleh nabi :
“Sebetulnya musuh yang paling ganas bagimu adalah nafsu yang mengeram dalam tubuhmu.”
atau sesuai dengan peringatan nabi tatkala beliau dan para sahabatnya baru saja kembali dari medan perang di Badr Al-Kubra. pertempuran sedahsyat itu yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa begitu banyak masih dianggap ringan oleh nabi. Beliau menyatakan,
“Kita sudah pulang dari perang kecil, tapi akan terlibat dalam perang yang paling besar.”
Seorang sahabat bertanya : “Perang apakah yang paling besar itu, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, memerangi hawa nafsu“
itulah yang dikenal sebagai Nafsu Lawwamah (surah Al-Qiyamah : 2) nafsu yang selalu menimbulkan cercaan. dan dari sini nafsu itu kemudian menyeru kearah kejahatan (An-Nafsu Ammaarah bis suu).
(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi)



