Menaklukkan Anjing Liar


Seorang alim menjumpai sebatang pohon besar sedang disembah-sembah dan dimintai keramatnya oleh sejumlah masyarakat. Orang alim ini mengurungkan niatnya hendak meneruskan perjalanan. ia segera pulang dan mengambil sebilah kampak untuk menebangnya, supaya kemusyrikan jangan berkelanjutan.

Menjelang tiba dipohon itu sesosok iblis menghadangnya sambil menghardik : “Mau kemana kamu?

Illa tilkas syajarah allatii tu’badu min duunillaah. Mau kepohon yang disembah-sembah masyarakat selain mereka beribadah kepada Allah itu untuk merobohkannya,” jawab orang alim itu dengan tegas.

Maa laka wa laha. Kamu tidak ada kepentingan apa-apa dengan pohon itu. pulang sajalah,” cegah si Iblis.

Tidak. akan kutebas,” Jawab orang alim itu bersikeras. Hingga terjadilah pertarungan melawan Iblis. dengan sekali pukul Iblis itu pun terjatuh.

Dasar Iblis, seraya meringis kesakitan ia berkata, “Kalau tuan membatalkan niat menebang phon itu, saya berjanji akan memberi tuan uang mas tiap pagi yang akan saya letakkan dibawah tikar tuan.

mendengar iming-iming uang mas kekerasan orang alim itu pun luntur ia segera pulang dengan bernafsu. paginya ketika tikar disingkap ternyata tidak sebutir pun uang mas dijumpainya. Marah sekali orang alim itu karena telah ditipu mentah-mentah oleh Iblis. ia langsung mengambil kampaknya kembali dan seraya berteriak “Jihad Fi Sabilillah“, ia berangkat menuju pohon tersebut. sampai disana Iblis yang sama menghalang-halanginya. terjadilah pergulatan yang seru. namun kali ini orang alim tadi dapat dirobohkan dengan mudah.

Keheranan ia bertanya, ” Bi Ayyi anta ghalibun ‘alayya wa kuntu ghaliban ‘alaika? dengan sebab apa engkau sekarang bisa menjatuhkan aku padahal aku kemarin aku lah yang menang atas kamu?”

Iblis menyahut, ” Kemarin engkau berniat menebang pohon itu dengan hati ikhlas karena Allah. betapapun aku mengerahkan seluruh bala tentaraku engkau takkan dapat kukalahkan. Namun hari ini meskipun mulutmu berteriak demi Allah tetapi hatimu menjerit karena engkau tidak menemukan uang mas dibawah tikarmu. Untuk itu jangan harap engkau dapat mengalahkan aku lagi.

Memang hati tidak dapat dipisahkan dari syahwat. karena syahwat selalu memilih hati untuk tempat mukimnya. dan memberi warna kepada hati tergantung kadar kekuatannya.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa hati terdiri empat jenis :

Hati yang bening, didalamnya ada lampu menyala. Itulah hati orang yang beriman. Hati yang hitam terbalik. itulah hati orang kafir. Hati yang terbungkus dan terbalut oleh bungkusnya. itulah hati orang munafik. dan satu lagi hati yang isinya bercapur aduk antara iman dan kemunafikan.

Pastilah setiap orang beriman menghendaki hatinya sesuai dengan imannya, yakni agar mencapai peringkat hati yang pertama, yang bersih dan terdapat cahaya penerang didalamnya. sebab peranan hati dalam membentuk watak dan sifat manusia sangatlah besar.

Ibnu Athoillah As-Sukandari dalam Al-Hikamnya mengatakan,

Beraneka ragamya jenis-jenis amal disebabkan oleh beraneka ragamnya pengaruh yang menggerakkan hati.

Oleh karena itu para penganut tasawuf menitik pusatkan perhatiannya kepada tiga upaya, yaitu membersihkan hati dari segala rendah dan hina, atau At-Takhalli minar radza-il, lalu menghiasi hati dengan segala yang utama dan terpuji, atau At-Tahalli bil Fadlaa-il dan akhirnya memurnikan hati dari apa saja selain Allah, atau At-Tabaari ‘amma siwallah.

Salah satu jalan menuju kebeningan hati adalah apabila manusia membiasakan dirinya untuk bersyukur atas semua kurnia Allah. Syukur membuat lembut jiwa manusia yang akibatnya terasakan betul betapa agung dan luasnya kenikmatan yang telah diberikan oleh sang maha pencipta. Betapa Allah dengan kuasa dan kasih-Nya telah melengkapi kehidupan manusia dengan semua yang dibutuhkan.
Alam menyediakan air, api dan udara. Tumbuh-tumbuhan menghidangkan zat-zat nabati dengan kelezatan cita rasanya. Binatang atau hewan ternak dengan air susu dan protein hewaninya. belum lagi kesempurnaan bentuk manusia yang memiliki kecerdasan akal dan kepekaan rasa. semua itu bila diresapi dan dihayati akan mengubah hati bagaikan kaca tempat bayangan tuhan menyemayamkan wujud-Nya.

Dalam kitab Taubat, Imam Al-Ghazali mengisahkan bagaimana pada suatu hari Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah SAW,

Harta manakah yang patut kami ambil ?

Rasulullah menjawab,

Hendaknya kamu memilih lisan yang berdzikir dan hati yang bersyukur.

Dan Ibnu Mas’ud RA menegaskan bahwa syukur adalah separuh dari iman.
lewat haditsnya yang lain Rasulullah bersabda,

Sebuah panggilan berkumandang pada hari kiamat : “para ‘Hammadun’ harap berdiri. Lalu berdirilah sekelompok manusia. dipancangkan kemudian sebuah bendera bagi mereka. dan dengan bendera itu mereka terus masuk ke surga.

Sahabat bertanya, “Siapakah Hammadun itu ?”

Rasulullah menjawab,
Mereka adalah orang-orang yang bersyukur kepada Allah disetiap saat.

Para ahli tasawuf menerangkan tentang syukur sebagai berikut :

Syukur ialah mengakui kenikmatan dari Allah dan membuktikannya dengan mengabdi kepada Allah.

Untuk itu agar terentang jalan lurus guna mencapai kebeningan hati yang terhindar dari karat-karat dosa dan kerak-kerak maksiyat, maka manusia harus memiliki kekuatan untuk memandangi cacat dirinya sendiri. Hawa Nafsu yang menyebarkan desakan-desakan syahwat adalah bersumber pada kelezatan jasmani. sementara akal tempat menampung ilmu berasal dari hadirat ilahi. karenanya manusia harus mampu meletakkan akal sebagai pengendali. Jangan kebalikannya, justru akal yang ditunggangi oleh syahwat. itulah yang bakal menutup hati menjadi hitam pekat, terbalik, terbungkus dan terbalut oleh bungkusnya. sebab hawa nafsu pada hakekatnya adalah anjing liar yang dapat dijinakkan atau justru mengancam insaniyah setiap pribadi.

seperti diungkapkan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya.

Dia yang memperturutkan hawa nafsunya adalah seumpama seekor anjing. kau beri beban anjing itu ia akan menjulurkan lidahnya. atau tidak kau bebani dia, anjing itu pun tetap menjulurkan lidahnya” (Al-A’raf : 176)

(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbukaArman Arroisi)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.