
Adakah yang lebih indah dari surga? bagi orang awam surga adalah puncak segala-galanya. disana tempat hamba Allah memetik semua yang tidak dapat diperolehnya dalam kehidupan fana. tidak ada yang lebih indah dari surga. Namun bagi para Shufi surga tidak punya arti apa-apa dibandingkan kenikmatan merebut ridha sang pencipta. menyatu dengan Allah melalui taqarrub, pendekatan diri kepada-Nya, adalah jalan paling sejuk guna meneguk bercawan-cawan kasih sayang-Nya.
Untuk itu dibutuhkan kekuatan merambah belukar agar didapatkan jalan lurus menjangkau haribaan Allah. maka para pendamba keshufian lalu membangun jalan-jalan itu, yakni Tarikat. seakan pedut yang mengabuti pandangan menunju kepada-Nya terkelupas sirna. tampaklah cahaya itu. Cahaya yang membenderangi taman indah dalam kedamaian yang hakiki. damai bersama Allah.
Akan tetapi untuk menempuh tarikat itu sendiri tidak setiap orang mampu melakukannya. sebab mengambil tarikat berarti berusaha membunuh nafsu syahwat, menghancurkan muslihat syetan, dengan menggunakan gegaman paling ampuh laksana melawan musuh memakai pedang yang paling tajam. lantaran penganut tarikat harus sanggup menggauli empat kesukaran, akhtar, wa’ar, dhama’ dan juu’.
Akhtar ialah memerdekakan diri dari semua kebiasaan, karena kebiasaan itu bukanlah kebutuhan. Boleh dikerjakan atau tidak. misalnya makan, tidur dan minum.
Wa’ar ialah kesulitan dan rintangan ketika melaksanakan suluk, amalan-amalan tarikat.
Dhama’ yaitu selalu dahaga kepada ilmu. sedangkan juu’ adalah lapar terhadap iman tanpa terputus-putus. inilah intisari upaya mencapai maqam, keadaan taat yang tak pernah berubah, sebagaimana diterangkan oleh Al-Yafi-i dalam kitabnya Nasyrul Mahasinil Ghaliyah.
Kendala tidak habis sampai disini. Masih berjubel bahaya yang mengancam keselamatan para penempuh tarikat. yang terberat adalah Hulul, merasa diri kemasukan tuhan. Ittihad, seakan telah menyatu dengan zat tuhan, dan tajsim, menjasadkan tuhan kepada sesuatu makhluk atau benda-benda.
Selain itu terkacaukannya suluk menjadi ajaran yang sesat dapat menyelewengkan penempuh tarikat dari istiqamah, kesetiaan dan kelanggengan beribadah yang sesuai syariat serta akidah.
Abul Qasim Al-Junaid pernah memperingatkan bahwa andaikata seseorang telah menempuh tarikat yang benar seribu tahun lamanya, lalu ia terpeleset akibat lengah dalam menjaga kebenarannya, sesaat saja pun ia tersesat telah mampu menghilangkan semua yang sudah dicapainya seribu tahun itu. Oleh sebab itu perlu penelitian yang terinci dan jeli sebelum seseorang mengambil sesuatu tarikat sebagai sarana pendorong takwanya.
Lantaran sebetulnya mengambil tarikat didalam beribadah adalah ikhtiar terujung untuk mengabdi Allah secara hak. dan penganut tarikat ibarat musafir yang berusaha mengendarai ombak-ombak kehidupan agar tidak tergulung didalamnya.
Lantas kemanakah tujuan akhir penganut tarikat? tidak lain untuk menempati peringkat maqam. yakni tingkatan mencapai ‘uzlah, memencilkan diri dari maksiat; shamat, lebih baik diam ketimbang berkata tiada manfaat; muroqabah, meyakini dirinya senantiasa diawasi tuhan; taqwa, takut menolak perintah atau melanggar larangan tuhan; hazan, takut kepada dosa; muhasabah, menjaga diri dalam setiap perbuatan; tawadhu, merendah tidak angkuh dalam segala perkara; khusyu, ikhlas ketika mempersembahkan amal kebajikan; khudlu‘, hanya tunduk kepada Allah; Juu’, rela berlapar-lapar untuk ibadah; tarkus syahwat, membebaskan diri dari rantai hawa nafsu; mujahadatun nafsi, mempergiat diri dalam kebaktian; tayaqquthminal ghaflat, mudah terjaga dari kealpaan; imaratul auqat, mengisi wakti dengan hadir didepan Allah.
Sahal bin Abdillah, seorang ulama ahli ma’rifat yang ternama menegaskan bahwa orang-orang yang dengan upaya-upaya tersebut tidak tergoyah dari tarikat yang diridhai berarti mereka telah mencapai tingkatan kaum shalihin, kaum yang shalih. yakni mereka yang digambarkan tuhan lewat firman-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang berikrar tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka beristiqamah didalamnya, turunlah kepada mereka para malaikat seraya berseru : ” Kalian tidak usah takut dan tidak usah sedih. bahkan bergembira rialah dengan surga tempat kalian bakal bermukim.” (Hamim As-Sajadah : 30)
Untuk itu dalam memilih tarekat hendaknya selalu waspada terhadap jebakan syetan yang menyesatkan, melalui pengamalan yang keliru. sebab hanya ada dua warna pada hasil akhir penghayatan tarikat; yaitu jalan putih atau jalan hitam.
Seorang ahli filsafat kristen berkebangsaan Perancis bernama J. Renet adalah salah satu contoh hamba Allah paling berbahagia selama menekuni keshufian dan tarekat yang benar. Tadinya ia cuma tertarik hendak mempelajari mistik dalam agama Islam, agar mengenalnya lebih lanjut sebagai kaca perbandingan bagi filsafat kristen yang ditekuninya. Ternyata ia terhanyut makin kedalam sehingga bergaul akrab dengan tarikat dan hakikat. Akhirnya ia tiba pada kebenaran Al-Haq. Dan sejak itulah ia memeluk agama Islam serta berubah namanya menjadi Abdul Wahid Yahya.
Sebaliknya apabila salah menempuh jalan, maka tidak ada kesesatan mengundang malapetaka kemusyrikan lebih besar dibandingakan mereka yang tidak menemukan kebenaran lantaran mengambil tarikat yang keliru atau secara tidak benar.
Karena itu sepanjang seseorang memilih keshufian sebagai jalan menuju ibadah yang hakiki semata-mata dilandasi niat yang penuh keikhlasan agar tidak goncang keimanan dan ketaatannya, sungguh ia merupakan hamba Allah yang amat dicintai. Sebab didasar hatinya ia sangat ketakutan membayangkan hadist Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah RA :
“Bergegaslah kamu melakukan amal yang shalih. sebab akan datang berbagai macam fitnah bagaikan potongan malam gulita. Seseorang dipagi hari beriman tetapi sorenya berubah kafir. Atau sorenya ia beriman ketika pagi hari ia pun kafir. Karena orang tersebut sampai hati menjual agamanya dengan harta kekayaan dunia.”
(Sumber Buku “Rumah Tuhan selalu terbuka” Arman Arroisi).


