Menggali Permata Terpendam

Enam bulan sesudah Rasulullah SAW wafat, fatimah Az-zahra putrinya, menyusul ke alam baka. tiada yang tidak berduka. terutama suaminya, Ali bin Abi Thalib.
Bersama para sahabat lainnya, Ali mengantar jenasah Fathimah hingga ke pemakaman. Abu Dzar Al-Gifari, seorang sahabat yang sangat dekat dengan keluarga Rasulullah, karena sedihnya berdiri lama didepan lubang kuburan yang telah siap digali. dengan bibir gemetar Abu Dzar mengguman sendirian,

Hai Kubur, tahukah kamu siapa yang kami antarkan kedalam lubukmu hari ini ? ia adalah Fathimah Az-Zahra, Putri Rasulullah, Istri Ali Al-Murtadha dan Ibunda tercinta kedua cucu nabi, Hasan dan Husain.

sekonyong-konyong bergema suara gaib dari dalam kubur. suara itu tidak menembus lewat telinga para pelawat, melainkan langsung menyelusup kedalam jiwa. suara itu berkata :

Aku bukanlah tempat untuk membangga-banggakan pangkat atau keturunan. Sesungguhnya aku hanyalah tempat untuk menyimpan amal shalih. takkan selamat dari terkaman siksaku kecuali orang yang banyak kebajikannya. yang bersih hatinya dan yang ikhlas semua perbuatannya.

Namun betapa banyaknya manusia yang tertipu oleh harapan-harapan semu. Kepercayaan bahwa dirinya sudah bersih membuat seseorang lalai terhadap makna kebajikan. adalah keliru bila menyangka bahwa kebajikan akan mengantarkan manusia kedalam surga. sebab amal shalih tidak berarti perbuatan baik saja, tapi harus diimbangi hati yang bersih dari segala penyakit, terutama hasud (dengki) dan riya (pamrih). dengan demikian akan lahirlah keikhlasan tuntas dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik. itulah natijah yang tersaring dari peristiwa meninggalnya Fatimah binti Rasulullah.

Terdapat empat golongan manusia yang tertipu dirinya sendiri.

Pertama Ahli Ilmu, yaitu yang hanya berkutat dengan ilmu lahir dan akal saja sampai melupakan ilmu batin. Julukan sang Alim disangka telah membawanya kesinggasana paling tinggi diantara makhluk lainnya. padahal ia hanya mendalami ilmu Mu’amalah, pengetahuan tentang halal dan haram, baik dan buruk, dengan berbagai kerumitan cabang dan ranting-rantingnya untuk mencapai suatu kesimpulan remeh belaka : Sah dan Batal. ia mengabaikan ilmu ma’rifat yang justru merupakan kunci untuk membuka pintu Allah, tujuan dan sumber semua ilmu, yakni Ilmu untuk mengenal tuhan lewat amalan-amalan yang bukan cuma dipelajari tetapi dilaksanakan. seperti diperingatkan oleh Nabi SAW,

Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah makrifatnya maka hakekatnya tidak ada yang bertambah kecuali makin jauh dari Allah.

Sungguh tidak berakhlak seseorang yang mencari Ilmu hanya untuk menjadi alim dan menggungguli yang lainnya. Sabda Rasulullah yang keras dapat kita jumpai dalam kitab Minhajul Abidin (Jalan para ahli Ibadah) karya Imam Al-Ghazali.

Siapapun yang menuntut ilmu dengan maksud hendak bersaing dengan para ulama atau buat berdebat mengalahkan orang-orang bodoh dan supaya perhatian masyarakat tertumpu kepadanya, hal itu malah akan menjerumuskannya kedalam neraka.

Kedua, Ahli Ibadah. ia tertipu jika karena mengejar sah secara syara’ sampai melalaikan kebeningan niat. karena menuntut fadilah amal dan perkara-perkara sunnah sampai berlarut-larut didalam pertentangan dan perselisihan.

Rasulullah SAW mengingatkan, seperti kita dapati dalam salah satu hadist riwayat Bukhari dan Muslim :

Tidaklah tersesat suatu kaum sesudah memperoleh hidayah kecuali jika mereka mulai sibuk dengan saling berdebat.

Kata Beliau pula bahwa ummat Islam akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. semua masuk neraka. cuma satu yang berhak menjadi penghuni surga yakni Ahlussunnah wal Jama’ah. pengertiannya tidak dimaksudkan satu kelompok saja yang benar. Melainkan bahwa semuanya tersesat kecuali jika mereka bersiteguh dalam pendirian masing-masing atas keyakinan sunnah semata-mata, namun dalam saling berbeda itu mereka tetap memelihara yang wajib yaitu al-jamaah, persatuan. bila perkara terpokok ini, Al-jama’ah dijaga, maka hakekatnya yang tujuh puluh tiga golongan itu hanya satu, berhak masuk surga seluruhnya.

Ketiga, para penganut tasawuf yang menyangka bahwa mereka kaum terpilih, bahwa mereka saja yang telah mengenal Allah sebab konon sudah menguasai Ilmu Ma’rifat. mereka tidak mau membuka mata kepada para ahli agama lainnya, seakan-akan mereka cuma binatang melata yang terbata-bata tidak tahu jalan. mereka mengganggap sia-sia ibadah golongan lain, termasuk Ibadah ahli fiqh dan ahli tafsir. Mereka menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk mulazamah, bergaul dengan tuhan lewat wirid, dzikir dan suluk-suluk. Tasawuf tidak lagi murni sebagai upaya membersihkan hati menuju tuhan. Tasawuf telah berubah menjadi martabat Khawashul Khawash (Khusus dari yang khusus) didepan masyarakat manusia. Tasawuf cuma sekadar baju dan bukan kalbu. itulah golongan yang juga sudah tertipu diri sendiri.

Keempat, adalah golongan kaum awam, baik hartawannya maupun fakir miskinnya. karena tertipu jika kaum hartawan gemar bersedekah asalkan diketahui orang banyak. Mereka hanya memberi kepada fakir miskin yang suka menyebar luaskan kedermawanannya. mereka berulang kali naik haji tanpa menghiraukan kesengsaraan tetangga disekitarnya.

Ibnu Mas’ud mengatakan,

Kelak di akhir zaman akan banyak orang pergi haji dengan gampang lantaran kemurahan rizki yang diterimanya. tetapi sekembali dari haji mereka hampa dari pahala. sebab para tetangga yang berdempetan rumah dengannya dan sedang ditimpa kesusahan, ditanya pun tidak olehnya apalagi diperhatikan nasibnya.

Adapun fakir miskin tertipu apabila menduga hanya dengan menghadiri majlis dzikir ia sudah memenuhi kewajibannya tanpa Ikhtiar untuk memperbaiki peruntungannya. bahwa dengan pasrah kepada nasib ia sudah mencapai kesempurnaan hidup. bahwa mendatangi majlis ilmu adalah kebaikan yang tuntas dan tidak menganggap menuntut ilmu hanya jalan untuk memperoleh kebenaran amal. kalaupun mendatangi majlis ilmu sudah boleh dianggap sebagai amal maka amal yang semacam ini belum bisa membuka jalan menuju surga.

Para penganut Tasawuf yang mukhlis senantiasa berpegangan kepada hadits Nabi SAW pada waktu dihadapan para sahabatnya beliau bersabda:

Seseorang takkan masuk surga karena amalnya semata-mata.” Salah satu sahabat bertanya “Tidak pula engkau ya Rasulullah?” beliau menjawab : “tidak juga aku. kecuali jika Allah mengurniai aku dengan rahmat-Nya.

Sarana menuju ke surga adalah lewat amal salih. dengan itu akan bisa mengundang ampunan Allah. dari ampunan Allah terkuaklah tirai penghalang yang kemudian memberi jalan bagi turunnya pahala berlimpah. dan pahala atau al-ajru yang terbesar nilainya ialah rahmat Allah. inilah jenjang yang mengantarkan seorang pengabdi tuhan untuk tiba dihadirat-Nya, Jannatun Na’im, surga yang sarat dengan kenikmatan.

Karena itu tuhan menyediakan bagi manusia dan segenap makhluk ciptaanNya sifat Rahman dan Rahim.
Rahman adalah lahan rahmat dari yang maha pengasih untuk melengkapi kenikmatan duniawi buat seluruh hamba-Nya agar mereka dapat menempuh kehidupan sejahtera di dunia.
sedangkan rahim ialah sumber rahmat dari yang maha penyayang untuk hamba-hambnya yang beriman saja sebagai limpahan kurnia agar mereka dapat memperoleh kebahagiaan akhirat dengan segala kenikmatannya.

Sudah pasti tasawuf murni yang mengajak para pengikutnya untuk merasakan kelezatan dalam beribadah, keikhlasan dalam beramal shalih, kebeningan didalam hati dan ketauhidan dalam beriman adalah permata hakiki yang dapat dimiliki oleh siapapun yang menghendaki.

(Sumber Buku “Rumah tuhan selalu terbukaArman Arroisi)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.